Berita mengenai film ini sudah terdengar sejak setahun belakangan. Tapi atas banyak pertimbangan, film ini memilih untuk keliling di berbagai festival, daripada buru-buru rilis di bioskop. A Copy of My Mind tercatat sebagai film kelima yang disutradarai oleh Joko Anwar.

A Copy of My Mind bercerita mengenai Sari (Tara Basro), yang berprofesi sebagai seorang terapis facial di sebuah salon kecantikan murahan. Pada durasi awal, film menceritakan mengenai kehidupan Sari. Di Jakarta, Sari tinggal sendiri di sebuah kosan yang memiliki 100 kamar. Hobinya menonton film DVD bajakan. Sambil menikmati film, Sari gemar makan mie instan.

Hingga suatu ketika, Sari merasa teks dalam film pada DVD bajakan yang dibelinya, tidak sesuai dengan filmnya. Ia pun mendatangi toko dimana ia membeli DVD bajakan tersebut. Saat ia protes, di situlah ia bertemu dengan Alek (Chicco Jericho). Alek adalah pembuat teks film dalam DVD bajakan di toko tersebut.

Saat itulah Alek merasa tertarik dengan Sari. Alek menjadikan koleksi DVD nya sebagai media untuk memikat hati Sari. Mereka pun akhirnya membina hubungan asmara. Awalnya, hubungan mereka berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan. Sampai kemudian, cinta dan kesetiaan mereka diuji. Kecerobohan Sari dan situasi politik yang sedang tidak kondusif menjadi cobaan berat dalam hubungan mereka.

Setiap adegan dan dialog pada peran Sari dan Alek, terlihat sangat alami. Penonton akan merasa menjadi bagian dari mereka. Tokoh dan karakter mereka bahkan mungkin akan sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari kita. Lokasi syuting yang semuanya mengambil lokasi asli pun membuat film ini benar-benar mendekati nyata, terutama bagi penonton yang tinggal di Jakarta.

Chemistry yang terjalin antara Tara dan Chicco, membuat film ini semakin terasa nyata. Kita akan merasakan cinta dan kecemasan yang mereka rasakan. Bukan hanya mereka sebagai pemeran utama saja yang menampilkan akting cemerlang, para pemain tambahan dan ekstras sekalipun menunjukkan performa yang tidak mengecewakan. Entah treatment seperti apa yang Joko Anwar lakukan sehingga semua pemain yang terlibat mampu menunjukkan penampilan terbaiknya.

Ide cerita yang disajikan juga sangat dekat dengan keseharian. Film ini seolah menjadi potret kehidupan masyarakat Jakarta kelas menengah ke bawah, dalam situasi politik yang mendebarkan. Satu-satunya yang terasa mengganggu dari film ini adalah beberapa gambar close up yang tidak terlalu penting. Beberapa gambar tersebut, seperti gambar yang tidak sengaja terekam namun sulit untuk dikoreksi karena berada dalam scene yang penting. Tetapi bisa jadi ini memang konsep yang diusung Joko, alami dan mentah.

Dengan beragam kelebihan tersebut, tepat rasanya bila film ini dianggap sebuah cetak biru seorang Joko Anwar. Orang akan mengingatnya sebagai sutradara salah satu film lokal terbaik di era ini. Tidak heran juga bila film yang hanya bermodal 150 juta saja ini, berhasil mendapat sambutan yang baik di beberapa festival film internasional, seperti Festival Film Venice 2015 dan Toronto International Film Festival 2015. Film ini juga berhasil membawa pulang tiga piala citra pada Festival Film Indonesia 2015, untuk kategori Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, dan Penata Suara Terbaik.

Semoga Joko Anwar tidak berhenti sampai di sini. Semoga ia terus menggarap film-film berkualitas, hingga menggeser popularitas film esek-esek berbungkus horor yang banyak dibuat beberapa tahun belakangan ini. (RFA)