Ari Reda merupakan duo yang terdiri dari Ari Malibu dan Reda Gaudiamo. Duo yang dikenal dengan musikalisasi puisi ini merupakan musisi veteran yang sudah ada sejak 1982. Pertemuan mereka berawal di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sebenarnya mereka ‘dipaksa’ berpasangan duet oleh Pepeng Ferrasta Soebardi, yang merupakan senior mereka di kampus. Meski tidak saling mengenal sebelumnya, akhirnya mereka menerima paksaan itu.

Pada masa-masa awal kebersamaan, mereka menyanyikan lagu-lagu ballad atau folk, seperti John Denver, Simon and Garfunkel, dan musisi sejenis lainnya. Hingga kemudian mereka sepakat untuk menyanyikan puisi atau yang dikenal dengan musikalisasi puisi. Duo ini begitu populer dikalangan mahasiswa UI. Hingga akhirnya, pada tahun 1987 Sapardi Djoko Darmono dan Fuad Hasan (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, saat itu) mengajak mereka untuk terlibat dalam proyek seni. Proyek ini digarap agar semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati puisi.

Kebersamaan mereka rupanya terus berlanjut, hingga kemudian mereka merilis album pertama, bertajuk Becoming Dew, yang dirilis pada tahun 2007. Album tersebut berisi puisi-puisi karya Sapardi Djoko Darmono, yang dimusikalisasi. Album pertama ini seolah menjadi penantian panjang yang akhirnya kesampaian.

Kemudian, setelah delapan tahun berselang dari peluncuran album pertama, tepatnya Oktober 2015, mereka merilis album kedua bertajuk Menyanyikan Puisi . Pada album sebelumnya, mereka hanya memusikalisasi puisi milik Sapardi Djoko Darmono. Tetapi kali ini mereka membawakan puisi dari lebih banyak sastrawan, seperti Abdul Hadi WM, Goenawan Mohammad, Mozasa, Sapardi Djoko Damono, dan Toto Sudarto Bachtiar.

Menurut cerita Reda yang disampaikan dalam blog pribadinya, album ini hampir tidak pernah selesai. Selain karena kesibukan masing-masing, mereka juga tidak menemukan solusi dalam pendanaan. Hingga akhirnya sebuah pertemuan dengan David Karto, Demajors, menjadi titik terang untuk mereka. David menawarkan diri untuk merilis album tersebut. Akhirnya terjadilah kesepakatan untuk bekerjasama.

Album ini diproduksi dengan metode live recording. Yang artinya, saat terjadi kesalahan di tengah-tengah lagu, maka mereka harus merekam ulang dari awal. Ini adalah salah satu hal yang membuat album ini terasa istimewa. Untuk merayakannya, mereka mengadakan sebuah konser tunggal pada Januari 2016, di Taman Ismail Marzuki, selama dua hari pertunjukkan. Tiket konser selama dua hari pertunjukan habis terjual tanpa sisa.

Ari Reda, salah satu musisi veteran yang terbilang cukup mampu menjaga eksistensi mereka. Setelah kebersamaan selama 33 tahun menyanyikan puisi, mereka masih mampu untuk menciptakan karya baru. Hal ini tentu saja tidak banyak dimiliki oleh musisi seangkatan mereka lainnya. Dalam setiap penampilan live nya pun, Anda akan merasakan chemistry yang tetap terjaga antara Ari dan Reda. Meski hanya dengan petikan gitar Ari, Reda dapat bernyanyi dengan vokal yang luar biasa mumpuni. Kesederhanaan itulah yang membuat mereka tetap indah untuk dinikmati hingga kapanpun. (RFA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here